Jumat, 16 Mei 2014

Paparapapa........Paparapapa

Dua tahun terkahir banyak hal "bodoh" yang terjadi dan banyak perubahan yang sadar nggak sadar juga terjadi. 
Pelan-pelan aku mulai sadar fungsi tanda kutip ("...") itu keren. 

Kira-kira seminggu yang lalu aku abis baca satu tulisan menarik soal Atlantis
Yoi, Atlantis...The Lost Continent....Atlantis yang diceritain Plato di Kriteas dan Timaeus(oke, aku belum pernah baca langsung.....ini cuman kata orang2 aja sih)

Satu hal yang menarik ditulisan itu adalah penulisnya ngeliat Atlantis bukan sebagai sesuatu yang nyata....Atlantis adalah metafora dari pemikiran Plato, Visi mungkin lebih tepatnya
Visualisasi dari apa yang ada di dalam benaknya untuk ngejelasin apa yang kita sebut sebagai realitas.
Sebenernya inti tulisannya sih gak cuman sampai disitu..di bagian akhir tulisan ada pembuktian yang dilakuin penulis yang aku sendiri lumayan sulit buat paham maksudnya.

Yang menarik adalah walopun ada kemungkinan semacem ini untuk ngejelasin apa, dimana, kapan, dan kenapa Atlantis itu ada pada akhirnya gak menyurutkan orang untuk tetep yakin kalo Atlantis itu bukan sebatas metafora seorang Plato.

Kita selalu bermimpi......dan karena mimpi itu kita semakin mantap dan yakin bahwa kita ada....
Kira-kira itulah kata-kata klise yang biasa aku baca di komik-komik

Tapi pemikiran soal mimpi itu ada benernya juga
Selama dua tahun(gak cuman dua tahun sih tapi dua puluh tiga tahun) ini bisa dibilang aku cuma makan mentah-mentah kata-kata penuh semangat semacem itu....

Cowok harus punya mimpi...gantunglah mimpi setinggi-tingginya.......Gapai impian setinggi langit...dan berbagai varian kalimat sejenis lainnya.

Akhir Januari kemaren aku nemu buku berjudul Waton Urip(moga-moga gak salah tulis judulnya)
Isinya tentang rekaman keseharian beberapa tukang becak di seputara Jogja
Secara garis besarnya buku ini nyeritain keseharian beberapa tukang becak plus pandangan soal kehidupan yang mereka jalanin 
Ada tukang becak yang memang ngerasa kalau jadi tukang becak itu panggilan hidup dan ada juga yang ngerasa jadi tukang becak karena memang gak ada pekerjaan lain yang bisa dia kerjain
Yang cukup menarik disitu ditampilin sosok tukang becak perempuan yang jadi tukang becak karena alasan kedua
Suami sakit keras, butuh biaya untuk pengobatan dan ngehidupin keluarga, Akhirnya sang perempuan itu memutuskan untuk serius menekuni kehidupan sebagai tukang becak profesional
Kenapa profesional??
Karena memang dia narik becak layaknya dokter ngobatin pasien. 
Dan itu sama sekali tanpa adanya sumpah profesi atau semacemnya...murni karena dia memang yakin rejekinya disana.
Dari cerita beberapa tukang becak itu ada satu kesamaan filosofi yang mereka pegang yaitu sesuai dengan judul bukunya Waton Urip(semoga gak salah tulis judul)

Nyeleneh banget ya???
Kesannya kayak orang putus asa

Butuh waktu 3 bulan buat ngerti kalo ternyata filosofi waton urip itu bukan sama dengan urip waton
walopun cuman ngebalik katanya doang tapi maknanya jadi berbeda

Waton Urip kalo diartiin ke bahasa Indonesia adalah Asal bisa Hidup
Buatku ini satu ungkapan yang berbeda jauh dengan Urip Waton yang kalo diterjemahin secara bebas ke bahasa Indonesia artinya adalah Hidup Asal-asalan

Daripada daripada mendingan mendingan


Dalam Kitab Suci yang aku imani terdapat beberapa ayat yang menjelaskan tentang perlu dan pentingnya posisi berdoa mengharapkan sesuatu kepada Yang Maha Berkehendak
Dan ada juga ayat yang menjelaskan bahwa manusia punya kesempatan membuat pilihan untuk nasibnya sendiri.
Dari dua ayat tersebut aku mikir kalau doa itu berisi harapan dan harapan-harapan kita adalah bagian dari mimpi kita..keinginan kita....yang akhirnya kita artikan sebagai tujuan hidup kita
Kita pasti bakal seneng setengah mati kalau doa atau harapan kita terkabul karena kita semakin yakin bahwa kita semakin dekat dengan mimpi kita
Dan sebaliknya kita bisa aja malah sedih...frustasi...atau mungkin sampai depresi ketika harapan yang kita yakini bakal mendekatkan kita kepada mimpi kita tidak terjadi

Kira-kira apa yang salah?

Korelasi antara kondisi tersebut dengan dua frase(oke akhirnya aku nemu kata yang pas buat ngejelasin) yang aku sebutin sebelumnya
Ada kalanya kita ngangkat diri kita terlalu tinggi...padahal belum tentu kita punya pijakan yang kuat buat nopang badan kita yang semakin hari semakin(kita rasa) naik...naik...dan naik
Kenyataannya kita cuman hidup asal-asalan..........asal orang lain ngeliat kita yang "hebat"


Orang jawa bilang(oke satu lagi filosofi jawa yang intinya bolak-balik kata juga hehehe) Ojo rumangsa iso tapi bisa rumangsa artinya jangan merasa bisa tapi bisa memahami kapasitas atau bisa juga diartiin secara kasar sebagai jangan merasa bisa tapi bisa merasa

Setelah denger penjelasan soal filosofi tersebut aku sempet mikir kalau filosofi semacem itu cuman bikin kita makin terhambat buat berkembang..........

Kenapa mesti membatasi diri kalau manusia punya potensi nggak terbatas??

Kenapa mesti keliatan pesimis kalau manusia bisa dapet apapun yang dia mau selama dia manfaatin hukum tarik menarik yang diterangin di The Secret??

Pertanyaan-pertanyaan semacem itulah yang pada akhirnya menggiring ke pola hidup penuh optimisme.....pada awalnya

Akhirnya???

Akhirnya adalah bukannya berkembang pesat kayak yang aku bayangin......yang ada malah nyaris berhenti.......hidup asal-asalan asal mimpi terkejar tapi lupa kalau hidup itu syarat penting kalau mau ngeraih mimpi.
Nah dititik inilah aku kayaknya mulai bisa ngerti maksud Asal bisa Hidup
Filosofi semacem ini gak bisa dibilang filosofi orang putus asa.........bisa dibilang optimis malah

Selama dua tahun ini aku ngeliat kalau setiap hari hidup itu isinya apalagi kalo bukan masalah
Dan semakin kita tambah umur masalahnya bakal semakin banyak......kadang malah gak masuk akal
Pilihan kita cuman dua mau Waton Urip atau Urip Waton
Pilihan manapun yang kita mabil gak ada yang salah atau bener....gak ada blueprint yang ngasih keastian kalau mimpi itu bakal jadi.....Gak ada peta yang bakal mastiin kamu bakal sampe ke pulau harta dengan selamat

Jadi..........???






Senin, 03 Februari 2014

Kegelisahan Sore Ini


Sore menjelang maghrib dan saya sedang menulis ditemani musik dari Nogizaka 46 dan sebatang rokok. Suasana sore ini cukup nyaman bagi saya. Hujan yang masih mengguyur halaman rumah disertai suara gemuruh petir dan gledek berpadu indah dengan suara merdu 16 gadis muda yang sedang saya dengarkan saat ini.

Jika mengingat kembali keadaan saya satu jam yang lalu suasananya tidak senyaman ini. Satu jam yang lalu saya masih menikmati diguyur derasnya hujan diatas motor saya yang melaju santai detengah hiruk pikuk jalanan Jogja yang kian hari kian padat. Dan satu jam yang lalu saya harus merelakan dompet(beserta isinya) dan Smartphone china saya berenang di dalam postman bag yang telah basah karena derasnya hujan saat itu.

Kehilangan Smartphone(karena basah dan kini tidak diketahui nasibnya apakah masih bisa digunakan atau tidak) merupakan pukulan yang cukup keras bagi saya pribadi. Masih terbayang banyaknya koleksi foto-foto Idol Group kesayangan saya yang telah susah paya dikumpulkan selama ini tersimpan di dalamnya. Belum lagi nomor HP teman-teman serta relasi yang(bodohnya) hanya saya simpan di memori telepon mungkin harus saya relakan untuk hilang begitu saja. Kehilangan sebuah Smartphone membuat saya seolah terputus dari jaringan sosial. Grup line chat yang seolah-olah telah menjadi ruang sosial saya kini terpaksa tidak bisa diakses untuk waktu yang belum dapat ditentukan. 

Oke, Saya akui sore ini saya cukup gelisah. Alasan kegelisahan saya yang pertama mungkin sudah cukup jelas. Saya kehilangan Smartphone yang menyediakan salah satu opsi ruang sosial bagi saya untuk berinteraksi dengan teman-teman yang tidak dapat ditemui langsung karena alasan jarak dan waktu. Kegelisahan kedua muncul ketika saya menyaksikan sendiri 80% jalan raya yang saya lalui satu jam yang lalu ternyata tak ubahnya sungai dangkal yang deras arusnya. Ya, saat menyusuri jalan raya satu jam yang lalu saya seolah-olah sedang melewati sungai dangkal(atau kali lebih tepatnya). Kondisi yang cukup ekstrim menurut saya ketika melihat air dari gorong-gorong meluap dan memunculkan ganangan dimana-mana. 

Saya pernah mendapat pelajaran mengenai pentingnya perencanaan peresapan air pada sebuah desain lingkungan binaan. Sebagai seorang mahasiswa yang berpikir bahwa desain fisik yang terlihat adalah aspek terpenting tentu saja perencanaan peresapan air merupakan prioritas yang kesekian bagi saya pribadi. Tidak terlalu banyak hal yang saya pikirkan tentang makna pentingnya perencanaan peresapan air, Cukup mengikuti template yang telah disediakan oleh google tanpa ada niat untuk membuktikan kebenaran dan efektivitasnya sama sekali. Dan saya kini mulai berpikir apakah para perancang tata kota dan bangunan yang bekerja untuk kota(provinsi) saya juga sepemikiran dengan saya?. Apakah perencanaan peresapan air yang mereka aplikasikan dalam desain tata kota dan bangunan yang ada saat ini sama dengan yang biasa saya gunakan dalam desain-desain Studio Desain Arsitektur saya?.

Ditengah kegelisahan saya sebenarnya masih ada hal-hal lucu yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal(bahkan saat ini saya kembali tertawa karena teringat kembali hal-hal lucu tersebut). Di saat saya dan para pengguna jalan yang lain sedang bersusah payah melewati genangan demi genangan tampak baliho-baliho besar yang memajang gambar-gambar apartemen-apartemen baru yang sedang marak dibangun(dan dijual) saat ini lengkap dengan segala frase dan kalimat yang menjelaskan kelebihannya masing-masing. Selain gambar-gambar apartemen terdapat juga iklan kendaraan roda empat dan roda dua terbaru yang saat ini kebanyakan sedang gencar mengangkat tema irit BBM dan emisi gas buang yang rendah. Iklan lain yang marak dipajang adalah iklan paket internet cepat yang ditawarkan provider-provider jaringan telepon selular saat ini. Benar sekali, kita membutuhkan itu semua(hal-hal yang ditawarkan iklan-iklan tersebut) untuk dapat diakui(atau lebih tepatnya mengakui) diri kita sebagai masyarakat yang mengikuti perkembangan zaman. 

Semangat menjadi masyarakat yang sesuai dengan perkembangan zaman mengharuskan kita menjadi pribadi yang sadar dengan sistem. Sebagai contoh ketika makan di restoran kita tahu bahwa sistem yang berlaku disana adalah pembeli adalah raja. Kita cukup datang untuk makan dan membayar sejumlah uang tanpa harus peduli dengan kebersihan meja setelah kita selesai makan. Persetan dengan tulang ayam yang kita biarkan berceceran di meja, Toh ada pelayan yang akan membersihkannya nanti.  Hal yang sama berlaku ketika kita nongkrong dengan teman-teman di sebuah convenience store yang menyediakan ruang nongkrong. Tidak ada kewajiban kita untuk tidak membiarkan kulit kacang yang kita makan berserakan di lantai selama kita bisa membayar segala produk yang ditawarkan convenience store tersebut. Persetan dengan pegawai yang membersihkannya nanti karena kita datang untuk senang-senang dan kita punya uang untuk membayar gaji mereka.

Kegelisahan dan kelucuan berpadu dalam benak saya sore ini. Untuk apa saya harus memikirkan perencanaan sistem peresapan air jika pada kenyataannya bukan itu yang dibutuhkan masyarakat saat ini. Kota ini akan menjadi kota besar bukan karena memiliki sistem perespan air yang sangat bagus. Kota ini akan menjadi kota yang termahsyur seantero jagad ketika memiliki ratusan apartemen dan hotel dimana warganya memiliki kendaraan pribadi sendiri-sendiri sehingga tidak lagi butuh transportasi umum ditambah lagi ketersediaan fasilitas perbelanjaan yang dipenuhi ratusan tenant produk-produk bermerk sebagai jaminan hiburan bagi masyarakat menggantikan taman-taman kota yang hanya cocok bagi masyarakat ndeso. Persetan dengan sistem peresapan air kita hanya butuh diakui dan dipandang bukannya menjadi diri sendiri dan selalu berusaha belajar memperbaiki sistem.







Rabu, 04 September 2013

Sederhana Itu Rumit


Kesederhanaan itu ternyata sesuatu yang sangat rumit. 

Meskipun terkadang susah untuk dijelaskan namun kehadirannya tidak dapat disangkal.

Seolah-olah tidak dibutuhkan namun menjawab.

Saya mungkin bukan orang yang sederhana. 

Jujur sehari-hari saya sering terlibat dalam situasi yang rumit dan pada akhirnya kerumitan itu berakar pada pengambilan keputusan yang juga rumit.

Terkadang ada lebih dari satu janji yang harus saya penuhi dalam waktu yang bersamaan.

Prioritas yang seharusnya sederhana dikembangkan menjadi tak ubahnya pohon besar yang bercabang ke segala arah. 

Diakhir penyusunan tersebut seringkali saya kehilangan fokus utama dari apa yang ingin saya capai.

Meskipun pada akhirnya sering saya jumpai kegagalan dan rencana yang berantakan namun semua menjadi sangat sederhana ketika saya mencoba untuk memaknai kegagalan itu.

Jika kehidupan selalu mendekati kesempurnaan maka kesederhanaan adalah pendekatan yang paling universal.

Mulailah segala sesuatu dengan sederhana meskipun kita yakin hal itu memiliki potensi besar.

Kamis, 22 Agustus 2013

Ketika Kambing Begitu Hitam


Pertanyaan yang muncul sore ini di benak saya adalah apakah benar negara tempat saya berpijak sekarang sedang dilaknat?

Kalau memang iya, lalu siapa penyebabnya. Pasti ada satu dua sosok yang bisa dijadikan kambing hitam seperti yang biasa kita baca di buku sejarah.

Kenapa kita begitu suka dengan kambing hitam?. Lezatkah?, Gurihkah dagingnya?, atau karena rendahnya kadar kolesterol yang terkandung di dalamnya?.

Saat ini mata saya kembali terpaku melihat aksi sekumpulan Kades di TV yang dengan gagahnya membuang motor dinas mereka. "Tidak layak pakai", begitu penjelasan yang diucapkan untuk menerangkan aksi tersebut. 

"Alangkah nikmatnya gulai kambing hitam", kembali saya berguman pelan. Semua orang selalu mencarinya. Bahkan ketika si kambing tidak ada mereka mencoba mengada-ada.

Saya mencoba tertawa untuk sore yang kelabu, Teringat cerita tentang keganasan ibukota yang dulu sempat saya baca disebuah situs blogging. Meskipun saya tidak pernah benar-benar menyusuri jalanan ibukota, kengerian yang coba di hadirkan oleh penulisnya tergambar dalam benak saya. Meskipun entah kenapa saya merasa harus tertawa menghadapinya.

Sungguh sore ini pikiran saya kembali ke ranah awang-awang. Saya menerawang ranah dewi-dewi dimana sosok gadis cantik itu berada. 6 minggu sudah saya terus memikirkan gadis itu. Seolah dia dekat di satu waktu dan seolah dia jauh di waktu-waktu yang lain. Dan entah bodohnya saya atau pintarnya setan, sayapun turut mencari si kambing hitam.

Mungkin ranah dewi-dewi bukanlah tempat yang bisa tangan saya sentuh dan hati saya mungkin tidak seluas yang dibutuhkan sang gadis. Namun entahlah, sekali lagi kambing hitam kembali menjadi pilihan saya untuk menyantap kenyataan. 

Siapakah yang tidak suka kambing hitam. Pemuja ranah dewi-dewi bukan lagi diri yang terbebas dari nafsu melahap kambing hitam. Sosok dewi yang memutuskan pergi dari ranahnya tak lepas dari perayaan yang menyajikan kambing hitam.

Pada akhirnya saya kembali ke tubuh fana saya dan kembali pada pertanyaan pertama saya. Apakah negara tempat kaki saya ini berpijak di laknat?.

Diri saya yang lain hanya bisa menjawab "apapun kejadiannya, rayakanlah dengan kambing hitam".

Senin, 29 April 2013

RE-Start 2.0

Dulu saya pernah berpikir bahwa hidup itu ditentukan dari "akar"
Darimana kamu berasal, siapa orang tuamu, siapa nenek moyangmu, dimana kamu sekolah, sebaik apa perkembangan motorikmu selama di TK...dll

Tapi akhir-akhir ini saya mulai sadar bahwa hidup itu terlalu luas untuk ditentukan dari "akar"
Saat ini terlalu berharga ketika kita hanya meratapi masa lalu
Kenapa dulu saya tidak begini...kenapa dulu saya harus begitu...kalau dulu saya seperti itu saat ini saya pasti sudah begini....

Saya bosan terus berpikir seperti itu
Dan saya jenuh memikirkan itu

Saya yakin tahun ini adalah tahun dimana semua aspek dalam hidup saya akan dimulai lagi dari awal
Saya punya tujuan baru...saya punya semangat baru..dan saya punya kamera baru serta alat gambar baru

Oke, mungkin terdengar agak metarialis ketika saya berbicara soal barang-barang baru tapi bagi saya keberadaan barang-barang tersebut memiliki "nilai" immaterial yang memicu saya untuk berubah
Bukan karena harga apalagi gengsi....hanya saja saya memang suka dengan sesuatu yang segar dan bergairah