Pertanyaan yang muncul sore ini di benak saya adalah apakah benar negara tempat saya berpijak sekarang sedang dilaknat?
Kalau memang iya, lalu siapa penyebabnya. Pasti ada satu dua sosok yang bisa dijadikan kambing hitam seperti yang biasa kita baca di buku sejarah.
Kenapa kita begitu suka dengan kambing hitam?. Lezatkah?, Gurihkah dagingnya?, atau karena rendahnya kadar kolesterol yang terkandung di dalamnya?.
Saat ini mata saya kembali terpaku melihat aksi sekumpulan Kades di TV yang dengan gagahnya membuang motor dinas mereka. "Tidak layak pakai", begitu penjelasan yang diucapkan untuk menerangkan aksi tersebut.
"Alangkah nikmatnya gulai kambing hitam", kembali saya berguman pelan. Semua orang selalu mencarinya. Bahkan ketika si kambing tidak ada mereka mencoba mengada-ada.
Saya mencoba tertawa untuk sore yang kelabu, Teringat cerita tentang keganasan ibukota yang dulu sempat saya baca disebuah situs blogging. Meskipun saya tidak pernah benar-benar menyusuri jalanan ibukota, kengerian yang coba di hadirkan oleh penulisnya tergambar dalam benak saya. Meskipun entah kenapa saya merasa harus tertawa menghadapinya.
Sungguh sore ini pikiran saya kembali ke ranah awang-awang. Saya menerawang ranah dewi-dewi dimana sosok gadis cantik itu berada. 6 minggu sudah saya terus memikirkan gadis itu. Seolah dia dekat di satu waktu dan seolah dia jauh di waktu-waktu yang lain. Dan entah bodohnya saya atau pintarnya setan, sayapun turut mencari si kambing hitam.
Mungkin ranah dewi-dewi bukanlah tempat yang bisa tangan saya sentuh dan hati saya mungkin tidak seluas yang dibutuhkan sang gadis. Namun entahlah, sekali lagi kambing hitam kembali menjadi pilihan saya untuk menyantap kenyataan.
Siapakah yang tidak suka kambing hitam. Pemuja ranah dewi-dewi bukan lagi diri yang terbebas dari nafsu melahap kambing hitam. Sosok dewi yang memutuskan pergi dari ranahnya tak lepas dari perayaan yang menyajikan kambing hitam.
Pada akhirnya saya kembali ke tubuh fana saya dan kembali pada pertanyaan pertama saya. Apakah negara tempat kaki saya ini berpijak di laknat?.
Diri saya yang lain hanya bisa menjawab "apapun kejadiannya, rayakanlah dengan kambing hitam".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar