Senin, 03 Februari 2014

Kegelisahan Sore Ini


Sore menjelang maghrib dan saya sedang menulis ditemani musik dari Nogizaka 46 dan sebatang rokok. Suasana sore ini cukup nyaman bagi saya. Hujan yang masih mengguyur halaman rumah disertai suara gemuruh petir dan gledek berpadu indah dengan suara merdu 16 gadis muda yang sedang saya dengarkan saat ini.

Jika mengingat kembali keadaan saya satu jam yang lalu suasananya tidak senyaman ini. Satu jam yang lalu saya masih menikmati diguyur derasnya hujan diatas motor saya yang melaju santai detengah hiruk pikuk jalanan Jogja yang kian hari kian padat. Dan satu jam yang lalu saya harus merelakan dompet(beserta isinya) dan Smartphone china saya berenang di dalam postman bag yang telah basah karena derasnya hujan saat itu.

Kehilangan Smartphone(karena basah dan kini tidak diketahui nasibnya apakah masih bisa digunakan atau tidak) merupakan pukulan yang cukup keras bagi saya pribadi. Masih terbayang banyaknya koleksi foto-foto Idol Group kesayangan saya yang telah susah paya dikumpulkan selama ini tersimpan di dalamnya. Belum lagi nomor HP teman-teman serta relasi yang(bodohnya) hanya saya simpan di memori telepon mungkin harus saya relakan untuk hilang begitu saja. Kehilangan sebuah Smartphone membuat saya seolah terputus dari jaringan sosial. Grup line chat yang seolah-olah telah menjadi ruang sosial saya kini terpaksa tidak bisa diakses untuk waktu yang belum dapat ditentukan. 

Oke, Saya akui sore ini saya cukup gelisah. Alasan kegelisahan saya yang pertama mungkin sudah cukup jelas. Saya kehilangan Smartphone yang menyediakan salah satu opsi ruang sosial bagi saya untuk berinteraksi dengan teman-teman yang tidak dapat ditemui langsung karena alasan jarak dan waktu. Kegelisahan kedua muncul ketika saya menyaksikan sendiri 80% jalan raya yang saya lalui satu jam yang lalu ternyata tak ubahnya sungai dangkal yang deras arusnya. Ya, saat menyusuri jalan raya satu jam yang lalu saya seolah-olah sedang melewati sungai dangkal(atau kali lebih tepatnya). Kondisi yang cukup ekstrim menurut saya ketika melihat air dari gorong-gorong meluap dan memunculkan ganangan dimana-mana. 

Saya pernah mendapat pelajaran mengenai pentingnya perencanaan peresapan air pada sebuah desain lingkungan binaan. Sebagai seorang mahasiswa yang berpikir bahwa desain fisik yang terlihat adalah aspek terpenting tentu saja perencanaan peresapan air merupakan prioritas yang kesekian bagi saya pribadi. Tidak terlalu banyak hal yang saya pikirkan tentang makna pentingnya perencanaan peresapan air, Cukup mengikuti template yang telah disediakan oleh google tanpa ada niat untuk membuktikan kebenaran dan efektivitasnya sama sekali. Dan saya kini mulai berpikir apakah para perancang tata kota dan bangunan yang bekerja untuk kota(provinsi) saya juga sepemikiran dengan saya?. Apakah perencanaan peresapan air yang mereka aplikasikan dalam desain tata kota dan bangunan yang ada saat ini sama dengan yang biasa saya gunakan dalam desain-desain Studio Desain Arsitektur saya?.

Ditengah kegelisahan saya sebenarnya masih ada hal-hal lucu yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal(bahkan saat ini saya kembali tertawa karena teringat kembali hal-hal lucu tersebut). Di saat saya dan para pengguna jalan yang lain sedang bersusah payah melewati genangan demi genangan tampak baliho-baliho besar yang memajang gambar-gambar apartemen-apartemen baru yang sedang marak dibangun(dan dijual) saat ini lengkap dengan segala frase dan kalimat yang menjelaskan kelebihannya masing-masing. Selain gambar-gambar apartemen terdapat juga iklan kendaraan roda empat dan roda dua terbaru yang saat ini kebanyakan sedang gencar mengangkat tema irit BBM dan emisi gas buang yang rendah. Iklan lain yang marak dipajang adalah iklan paket internet cepat yang ditawarkan provider-provider jaringan telepon selular saat ini. Benar sekali, kita membutuhkan itu semua(hal-hal yang ditawarkan iklan-iklan tersebut) untuk dapat diakui(atau lebih tepatnya mengakui) diri kita sebagai masyarakat yang mengikuti perkembangan zaman. 

Semangat menjadi masyarakat yang sesuai dengan perkembangan zaman mengharuskan kita menjadi pribadi yang sadar dengan sistem. Sebagai contoh ketika makan di restoran kita tahu bahwa sistem yang berlaku disana adalah pembeli adalah raja. Kita cukup datang untuk makan dan membayar sejumlah uang tanpa harus peduli dengan kebersihan meja setelah kita selesai makan. Persetan dengan tulang ayam yang kita biarkan berceceran di meja, Toh ada pelayan yang akan membersihkannya nanti.  Hal yang sama berlaku ketika kita nongkrong dengan teman-teman di sebuah convenience store yang menyediakan ruang nongkrong. Tidak ada kewajiban kita untuk tidak membiarkan kulit kacang yang kita makan berserakan di lantai selama kita bisa membayar segala produk yang ditawarkan convenience store tersebut. Persetan dengan pegawai yang membersihkannya nanti karena kita datang untuk senang-senang dan kita punya uang untuk membayar gaji mereka.

Kegelisahan dan kelucuan berpadu dalam benak saya sore ini. Untuk apa saya harus memikirkan perencanaan sistem peresapan air jika pada kenyataannya bukan itu yang dibutuhkan masyarakat saat ini. Kota ini akan menjadi kota besar bukan karena memiliki sistem perespan air yang sangat bagus. Kota ini akan menjadi kota yang termahsyur seantero jagad ketika memiliki ratusan apartemen dan hotel dimana warganya memiliki kendaraan pribadi sendiri-sendiri sehingga tidak lagi butuh transportasi umum ditambah lagi ketersediaan fasilitas perbelanjaan yang dipenuhi ratusan tenant produk-produk bermerk sebagai jaminan hiburan bagi masyarakat menggantikan taman-taman kota yang hanya cocok bagi masyarakat ndeso. Persetan dengan sistem peresapan air kita hanya butuh diakui dan dipandang bukannya menjadi diri sendiri dan selalu berusaha belajar memperbaiki sistem.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar